Dai Muda Suku Togutil, 8 Tahun Lalu Tak Bisa Membaca, Kini Berdakwah di Pedalaman Halmahera

Rahmat (tengah), remaja suku Togutil binaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara yang kini menjadi dai muda.* [Foto: Dok. BMH]

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– Perjalanan dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar megah. Bagi Rahmat, seorang remaja dari suku Togutil, dakwah justru berakar dari hutan pedalaman Halmahera.

Dari wilayah yang lama terpinggirkan, kini menumbuhkan harapan baru.

Rahmat merupakan remaja suku Togutil binaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara. Delapan tahun lalu, ia diberangkatkan ke Pulau Jawa untuk mengikuti pembinaan pendidikan melalui program Pondok Rumah Ceria di Bekasi. Saat itu, Rahmat masih sangat belia. Ia bahkan belum mampu membaca.

Proses panjang pembinaan itu kini menampakkan hasil. Menjelang Ramadhan 1447 H ini, Rahmat kembali ke Halmahera.

Ia pulang untuk bersilaturahim dan menemui keluarganya di pedalaman Togutil. Perjalanan tersebut tidak ringan. Rahmat harus berjalan kaki selama tiga hari menembus hutan untuk mencapai kampung halamannya.

Keinginan pulang lahir dari rindu dan kepedulian. Rahmat sering menyaksikan kondisi masyarakat Togutil melalui tayangan video yang beredar luas di media sosial. Perjumpaan warga pedalaman dengan aktivitas pertambangan membekas kuat di benaknya. Dari sana, ia merasa perlu kembali. Ia ingin hadir, bukan sekadar menonton dari jauh.

Perubahan Berarti

Total enam hari perjalanan keluar-masuk hutan ia tempuh. Hingga akhirnya Rahmat tiba di wilayah Galela dan bertemu kembali dengan ibu serta saudara-saudaranya. Kepulangan itu bukan hanya pertemuan keluarga. Ia juga menjadi ruang pengabdian.

Pengasuh pembinaan Suku Togutil, Ustadz Rahman Saha, menyampaikan bahwa Rahmat kini telah menunjukkan perubahan yang sangat berarti. Rahmat telah tampil memberikan tausiyah di enam titik di wilayah Galela, Halmahera Utara.

“Dulu ia datang masih kecil dan belum bisa membaca. Hari ini, ia berdiri menyampaikan tausiyah di hadapan masyarakat,” ujarnya.

Rahmat, remaja suku Togutil binaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara, mengisi kegiatan dakwah.* [Foto: Dok. BMH]

Buah dari Amanah Zakat

Kepala Perwakilan BMH Maluku Utara, Nurhadi, menilai capaian ini sebagai buah dari pembinaan yang dijalankan secara berkelanjutan.

Menurutnya, zakat, infak, dan sedekah yang dikelola dengan sungguh-sungguh mampu melahirkan sumber daya unggul, bahkan dari komunitas suku terasing.

“Delapan tahun lalu Rahmat berangkat sebagai anak didik. Hari ini ia kembali sebagai dai. Ini menunjukkan bahwa pembinaan membutuhkan kesabaran, waktu, dan konsistensi,” tutur Nurhadi.

Pada Ramadhan mendatang, Rahmat dijadwalkan mengikuti safari dakwah di berbagai wilayah Maluku Utara. Langkahnya menjadi simbol harapan. Amanah umat yang dikelola dengan baik telah bekerja. Ia tidak hanya membantu bertahan hidup, tetapi juga menumbuhkan pemimpin dakwah dari pedalaman.* (Herim/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *